LEBAK,- Museum Multatuli yang direncanakan menjadi pusat literasi dan informasi sejarah Lebak dan lainnya, secara resmi dibuka Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya. Launching Museum Multatuli turut di hadiri Dirjen Kebudayaan kementrian pendidikan dan kebudayaan RI Dr. Hilmar Farid, Ketua Umum PKB Muhaemin Iskandar, Nira Akbar Tanjung, Kepala Museum Multatuli Hearst Amsterdam, Kepala Museum Nasional Indonesia, Mantan Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya dan tokoh-tokoh literasi lainnya, Minggu (11/02).

Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan tahun 2014 tak seorangpun dari kami bermimpi akan memiliki museum dan bahkan terpikirpun mungkin tidak pernah dan dalam memulai ikhtiar pembangunan museum ini, tidak terhitung kritikan melalui sms maupun media sosial dari yang bernada satire sampai pada yang nyinyir.

“Kami tetap bergeming pada rencana kami, bermodal niat baik kami yakni akan ada jalan yang kemudian berakhir baik dan hari ini berkat usaha kita bersama, langkah kecil yang telah di titi hampir 4 tahun yang lalu akan kita resmikan dan perkenankan kami mempersembahkan museum multatuli ini kepada masyarakat lebak, untuk kemudian menjadi kebanggan dan milik warga lebak, milik indonesia dan kami berharap milik dunia,”kata Iti Octavia Jayabaya.

Edward Douwes Dekker atau biasa disebut max havelaaar – multatuli meski, berasal dari negara kolonial belanda namun amat terkaget-kaget dan tergugah akal sehatnya melihat praktek penindasan yang dilakukan pemerintah kolonial hindia belanda di daerah jajahan, khususnya di lebak dan nurani multatuli pun terusik dan dia berfikir bahwa kesewenangan-wenangan ini tidak boleh terus berjalan dan yang mendasari multatuli berfikir demikian adalah nilai kemanusiaan.

“Nilai kemanusiaan merupakan nilai yang bersifat universal, tidak dipagari oleh batas-batas wilayah, negara da bangsa dan nilai kemanusiaan mengutuk keras perampasan terhadap kebebasan setiap individu dan kelompok  walaupun setiap kebebasan individu tentu saja dibatasi oleh kebebasan individu yang lain,”ujar Iti.

Iti Octavia Jayabaya berharap, keberadaan museum multatuli yang posisinya menjadi satu komplek dengan perpustakaan Saidjah dan adinda, menjadi mercusuar ilmu pengetahuan di bumi Lebak sebagaimana novel multatuli dan perpustakaan bahwa musuh kita hari ini bukan penjajah yang mengangkat senjata, akan tetapi musuh kita hari ini dan kedepan adalah kebodohan, ketertinggalan dan kemiskinan dan senjata yang paling ampuh untuk memerangi ketiga musuh itu adalah pendidikan.

“Melalui konsep penataan ruang yang terintregasi dengan pusat pemerintahan, alun-alun rangkasbitung, musseum multatuli dan juga perpustakaan saidjah adinda dalam perspektif Lebak di masa depan, akan memiliki beberapa fungsi strategis, salah satunya pusat literasi dan informasi sejarah Lebak dan menjadi ikon Lebak baik secara nasional maupun internasionl,”pungkasnya.(adit)