Asian Games, kompetisi olaharaga terbesar se-Asia yang diadakan setiap 4 tahun sekali ini sudah ada sejak 1951. Indonesa menjadi salah satu negara yang juga menjadi anggota federasi, dalam pelaksanaannya Asian Game ke-I di adakan di New Delhi, India. Pada 1954 yang kedua diadakan di Manila, dan saat Asian Games ke-III diadakan di Jepang pada 1958, tercetuslah sebuah rencana yang disepakati forum, bahwa Asian Games selanjutnya akan diadakan di Indonesia

Melihat Indonesia yang baru 13 tahun semenjak membacakan proklamasinya, dan masih hangat-hangatnya membangun bangsa, sempat muncul keraguan tentang kemampuan Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggara Olahraga setingkat Asia.

Akan tentapi hal-hal yang seolah meremehkan Indonesia itu tidak dianggap oleh Soekarno, ia tetap berkeyakinan bahwa dalam jangka waktu empat tahun, Indonesia bisa menjadi penyelenggara Asian Games dengan fasilitas dunia. Sebagai bentuk ralisasinya dibentuklah Komite Olimpiade Indonesia, yang mengatur segala bentuk perencanaan Asian Games.

Beberapa pembangunan infrastruktur dan gedung olahraga dilakukan. Soekarno pada saat itu mengatakan bahwa “berapapun biaya yang harus dikeluarkan, tidak menjadi masalah bagi Bung Karno asalkan harga diri dan martabat Indonesia di mata dunia diakui.

Pembangunan besar-besaran tersebut meliputi Stadion Utama sebagai pencanangan pembangunan kompleks Asian Games IV, selain itu dilanjutkan pembangunan Stadion Renang berkapasitas 8.000 penonton, Stadion Tenis berkapasitas 5.200 penonton, Stadion Madya (sebelumnya disebut Small Training Football Field (STTF)) berkapasitas 20.000 penonton yang mana berdiri di area seluas 1.75 hektar dengan sumbu panjang 176.1 meter, sumbu pendek 124.2 meter dan dilengkapi dengan 2 tribun, semuanya hampir selesai dibangun dalam jangka waktu satu tahun.

Tahun berikutnya Istana Olahraga berkapasitas 10.000 penonton selesai dibangun dan untuk pertama kalinya digunakan untuk penyelenggaraan kejuaraan dunia bulu tangkis beregu putra memperebutkan Piala Thomas.

Tidak lupa pula pembangunan Stadion Gelora Bung Karno, yang hingga saat ini masih diakui sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara berkapasitas 100.000 penonton yang juga selesai dibangun pada Juli 1962, singkatnya pembangunan seolah membuktikan bahwa Indonesia mampu bergerak lebih maju dan cepat.

Di depan maket Stadion Senayan Bung Karno menunjuk-nunjukkan tongkatnya ke maket rencana Stadion “Ini…ini akan jadi Stadionterbesar di dunia, ini adalah awal bangsa kita menjadi bintang pedoman bangsa-bangsa di dunia, semua olahraga dari negara-negara di dunia ini, berlomba disini. Kita tunjukkan pada dunia, Indonesia bangsa yang besar, yang mampu maju ke muka memimpin pembebasan bangsa-bangsa di dunia menuju dunia barunya”.

Selain sarana olahraga, Patung Selamat Datang yang dibuat oleh Edhie Sunarso pada tahun 1961 sebagai bentuk simbolis penyambutan tamu-tamu mancanegara

“Coba dari arah lurus ini, kamu buat Patung Selamat Datang, disinilah patung yang akan jadi gerbang bangsa kita, awal dari mula sejarah berpikir kita. Djakarta akan jadi kota dunia, ini impianku, dari Stadion Senayan ini akan dilingkari pusat-pusat kebudayaan, kita akan melahirkan bukan saja atlet-atlet handal tapi pelukis-pelukis jempolan, penari-penari kelas dunia, dan penyanyi-penyanyi yang lagunya bisa membangkitkan suara surga dari tanah Nusantara. Cobalah Sunarso aku ingin lihat karyamu, patung-patungmu akan memberi jiwa bagi bangkitnya bangsa kita ke muka dunia Internasional. Monumenmu yang kau bangun adalah kehormatan,” ucap Soekarno

Kemudian Bung Karno diperlihatkan maket jalan Semanggi : “Semanggi ini perlambang bunga yang imbang, dari susunan daunnya dan batangnya. Ini seperti bangsa kita yang menyukai keindahan, dan taukah kamu…eh Bandrio, eh Jenderal Suprayogi, eh Sutami….keindahan itu adalah keseimbangan” kata Bung Karno dengan mata penuh kemenangan.

Hotel Indonesia pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk ibukota Jakarta dan juga merupakan pintu gerbang rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan. Pada masa itu semua tamu asing yang datang di Jakarta masuk melalui bandara Internasional Kemayoran dan langsung menuju ke hotel Indonesia yang menjadi tempat penginapan bagi mereka, sehingga sebelum mereka memasuki hotel maka mereka akan mendapatkan patung Selamat Datang ini di depannya.