Lima tahun setelah debutnya, “Yours Truly” (2013), akhirnya bisa dikatakan Ariana Grande telah menemukan karakternya yang utuh di album keempatnya ini, “Sweetener”. Dengan perpaduan pas antara estetika pop dan idealisme R&B, “Sweetener” dipenuhi dengan track-track yang memuaskan, dalam arti Ari kini terdengar seperti Ari, tidak seperti imitator, (yang kita ketahui sebagai salah satu skill sang popstar), yang kerap teraba di album-album sebelumnya.

“Sweetener” menegaskan posisi Ari sebagai penyanyi yang kini beranjak matang. Tidak ada lagi sisi “ringan” ala remaja, setidaknya di dua album awalnya. Tentu saja Ari tetap terdengar playful, namun kini ia menyajikan kedalaman tersendiri di dalam setiap barisan lagu yang mengisi “Sweetener”.

Yang juga patut diajungi jempol adalah kualitas vokal Ari itu sendiri, yang terdengar semakin terasah. Ari membawakan lagu-lagunya dengan smooth tanpa harus terdengar terlalu memaksakan diri tampil “grande” (pun intended) dan old-soul yang coba digalinya di album “Dangerous Woman” (2016).

Tentu saja kredit juga harus diberikan pada pilihan nama-nama yang membantu Ari di dalam album. Selain ada kolaborator lamanya, seperti Max Martin, Ilya Salmanzadeh atau Savan Kotecha yang memang sudah dikenal bertangan dingin membidani album seorang bintang pop. Kali ini Ari juga mengajak produser andal lain, Pharrell Williams, yang ciri khas funky-nya bisa ditemukan dalam banyak lagu “Sweetener”.

Ari memperkenalkan ‘No Tears Left To Cry’ sebagai sajian utama dan pertama dari album. Tidak usah diragukan lagi kualitas produksi Martin dan Salmanzadeh untuk lagunya. Yang membuat lagu terdengar standout adalah karena ia adalah contoh sempurna untuk perpaduan antara sisi pop dan R&B yang ingin disajikan Ari selama ini. Tidak ada tone yang menonjol, karena keduanya saling membelit menjadi pondasi utuh lagunya.

Lantas ada ‘God Is Woman’, sebuah track soulful yang mengangkat sisi DIVA seorang Ariana Grande ke dalam tempat tertinggi. Tidak hanya anthemik, tapi lagu juga terdengar sangat ikonik dan boleh jadi merupakan salah satu lagu terbaik yang pernah dihasilkan oleh Ari. Terimakasih sekali lagi untuk tangan dingin Martin, Salmanzadeh dan Kotecha.

Track-track yang disajikan Pharrell cenderung lebih kuat di akar R&B ketimbang pop. Seperti ‘Sweetener’, track balada yang menjadi judul album di mana Ari diberi ruang untuk memamerkan versalitas vokalnya; lembut dan bertenaga secara bergantian. Sementara ‘Blazed’, di mana Pharrell turun tangan langsung membantu Ari, atau ‘Blazed’ di mana sahabatnya, Nicki Minaj, membantu, cenderung memang bergerak di warna funk-playful dari seorang Pharrell.

Ari menyebut R.E.M. sebagai salah satu track favoritnya di album ini. Dimengerti karena lagu ini juga bisa menjadi medium bagi dirinya untuk mengeksplorasi kekuatan vokalnya, meski harus diakui tidak memiliki dimensi yang lebih luas sebagaimana Beyonce Knowles yang sempat menyanyikan versi demonya.

Omong-omong soal mengadopsi lagu lama, Ari menunjukkan kualitasnya sendiri saat meremiks lagu milik Imogean Heap, ‘Goodnight and Go’. Kini berjudul ‘Goodnight n Go’, ia meramu ulang lagunya menjadi sebuah pop-R&B catchy yang begitu melekat di benak dan otak, bahkan setelah pendengaran pertama. Ari mengubah lirik awal lagu, namun tetap memberdayakan lirik untuk chorus dan bridge orisinal lagu. Sebuah keputusan tepat, karena memang bagian paling mencolok dari lagu.

“Sweetener” juga berisi beberapa track menarik lain, seperti ‘Breathing’, ‘Successful’, atau ‘Borderline’ yang mengajak Missy Elliot sebagai kolaborator. Track-track ini menjadi menarik karena Ari sepertinya ingin menggali semangat era 90-an di dalam lagu, yang akhirnya juga memberi kontribusi pada nuansa album secara keseluruhan.

Mendengarkan “Sweetener” memang seperti mendengarkan sebuah album pop-R&B 90-an, ala Destiny’s Child atau Christina Aguilera yang memang menjadi inspirasi Ari. Sisi positifnya, album terdengar lebih organis dan khas ketimbang album-album masa kini yang kerap mendapat kritisi terlalu mirip antara satu dengan yang lainnya.

Terlepas dari track ‘Pete Davidson’, yang lebih mirip interlude dan menjadi dedikasi Ari untuk sang tunangan, “Sweetener” memang dibekali dengan materi yang penting sebagai bangunannya. Tidak ada track yang mubazir. Bisa berdiri sendiri, sebagaimana umumnya track dalam album di era kejayaan layanan streaming, tapi juga menjalin menjadi satu kesatuan dengan track lain. Sesuatu yang membuat utuh “Sweetener”.

Dengan segala kelebihannya ini, “Sweetener” menjadi ajang pembuktian bagi seorang Ariana Grande jika ia adala seorang vokalis terbaik saat ini, yang setiap langkah karirnya layak untuk diikuti. Sebuah catatan penting dalam progresi seorang Ariana Grande, baik dari segi musikalitas maupun eksistensinya sebagai seorang artis kontemporer.

Sumber : Creativedisc