Tahun 2017 lalu DPR RI mengesahkan Undang-undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Rancangan undang-undang ini diproses lebih dari 30 tahun sebelum disahkan menjadi undang-undang. Setelah pengesahan tersebut, masyarakat Indonesia akhirnya memiliki undang-undang yang mengatur wilayah kebudayaannya.

Pemrosesan undang-undang ini adalah kerja bersama tujuh kementerian yang dikoordinasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam hal ini, Direktorat Jenderal Kebudayaan adalah pelaksana langsung dari implementasi UU No. 5 Tahun 2017. Undang-undang tersebut mengamanatkan tata kelola serta penguatan ekosistem kebudayaan. Kemudian, dari sana, muncul kebutuhan penanganan kegiatan budaya secara sistematis dan terarah.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan merancang sebuah inisiatif baru berupa pengembangan platform kebudayaan Indonesiana. Platform tersebut merupakan sebuah struktur hubungan terpola antar penyelenggara kegiatan budaya daerah di Indonesia yang dibangun secara gotong royong. Dalam konteks platform kebudayaan Indonesiana, gotong royong melibatkan semua pihak yang memiliki kepedulian dan kepentingan atas pemajuan kebudayaan untuk mengembangkan kapasitas daerah. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam kegiatan budaya mencakup bidang-bidang kuratorial dan produksi, publikasi dan kehumasan, kerjasama dan pendukungan, serta pengelolaan pengetahuan.

Platform kebudayaan Indonesiana berfokus pada konsolidasi untuk peningkatan standar tata kelola kegiatan budaya dan manajemen penyelenggaraan kegiatan budaya melalui dukungan atas penyelenggaraan festival-festival di daerah, baik penguatan festival yang sudah ada sebelumnya maupun penyelenggaraan. Menurut Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Indonesiana meningkatkan tata kelola melalui tindakan dan kegiatannya akan digarap bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Inspirasi dari Multatuli

Pada 21 Januari 1856, Multatuli alias Eduard Douwes Dekker pertama kali tiba di Rangkasbitung dan ditugaskan sebagai Asisten Residen Lebak oleh Gubermen. Tidak kurang dari 84 hari, ia lalu mengundurkan diri setelah berselisih paham dengan atasannya. Multatuli kemudian pergi menuju Belgia dan menuliskan pengalaman dan kegelisahannya itu dalam bentuk roman berjudul Max Havelaar pada 1860. Menurut M. C. Ricklefs, roman Max Havelaar mengungkapkan dengan sangat pas keadaan pemerintah kolonial yang sangat zalim dan korup di Jawa. Roman itu menjadi senjata ampuh dalam menentang rezim penjajahan pada abad XIX di Jawa. Selaras dengan Ricklefs, Pramoedya Ananta Toer—seorang sastrawan dengan novel terkenalnya  Tetralogi Buru—dalam wawancara  tahun 1992 oleh televisi IKON dari Belanda, mengatakan bahwa Max Havelaar adalah roman yang membunuh kolonialisme Belanda. Lebih jauh menurut Pram, seorang politikus yang tidak mengenal Multatuli pasti tidak mengenal humanisme dan sejarah.

Pada tahun 2015 berdiri Museum Multatuli, menempati bangunan bekas kantor Kawedanan Rangkasbitung (1923). Museum yang terdiri atas tujuh ruangan ini menampilkan empat tema besar, yaitu antikolonialisme, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta Rangkasbitung masa kini. Untuk mengembangkan ide-ide konten dalam museum Multatuli, pada tahun 2016 delegasi pejabat dan guru dari Pemerintah Kabupaten Lebak berkunjung ke Belanda, mengunjungi Arsip Nasional Belanda, dan Museum Multatuli di Amsterdam. Setahun kemudian proses pengisian Museum Multatuli berlangsung, mulai dari pengadaan interior museum, peralatan audio-visual pengadaan replika artefak, film dokumenter, dan pembuatan patung Multatuli dan Saidjah-Adinda.

Menindaklanjuti pendirian Museum Multatuli pada 2015, pertemuan 2016, dan proses pengadaan konten pada 2017, Pemerintah Kabupaten Lebak mengadakan kegiatan Festival Seni Multatuli (FSM) di tahun 2018, tepatnya pada 6-9 September di Rangkasbitung, Lebak, Banten.. FSM merupakan salah satu kegiatan budaya pada 2018 yang didukung melalui platform kebudayaan Indonesiana. Tujuan dari FSM yaitu mengenalkan sejarah kepada masyarakat, terutama kaum muda di Kabupaten Lebak secara menyenangkan. Lebih jauh, festival ini merupakan ikhtiar mengenalkan Multatuli (yang menjadi bagian penting narasi sejarah di Lebak) dan Museum Multatuli kepada masyarakat secara gotong royong. Kegiatan ini menjadi penting mengingat Multatuli merupakan ikon Lebak. Selain itu, Multatuli memberikan ilham kemerdekaan, harmoni, kesederajatan, keberagaman, dan kemanusiaan kepada dunia. Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan : Festival Seni Multatuli akan membuat kita mengenal lebih dalam sejarah Lebak, khususnya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker yang bertugas sebagai asisten residen Lebak pada 21 Januari 1856.

FSM akan menampilkan berbagai kegiatan seni dan kebudayaan, di antaranya festival teater, penerbitan dan bedah buku puisi dengan tema “Multatuli”, Seri Diskusi Historia, simposium, festival musik tradisi, opera Saidjah Adinda, karnaval kerbau, workshop kreatif, kuliner dan tenun Baduy, serta panggung musik. Tidak hanya di pendopo Museum Multatuli, rangkaian kegiatan Festival Seni Multatuli juga akan dilaksanakan di bekas rumah Multatuli, Aula Multatuli Kabupaten Lebak,  serta Halaman dan Pendopo Kabupaten Lebak. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan mampu menarik masyarakat sekitar Lebak, Jabodetabek, Indonesia dan internasional yang membaca Max Havelaar, mengagumi Multatuli, maupun bergerak di bidang sastra, seni, budaya dan literasi.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai FSM, bisa mengikuti sosial media (Facebook: Fesvital Seni Multatuli 2018; Instagram: @festivalsenimultatuli; dan Twitter: @FS_Multatuli).