Producer VS Broadcaster VS Scriptwriter VS Repoter (Part 2)

Written by on 19/07/2019

Tulisan kali ini kita akan membahas soal Script Writer, sesuai dengan artinya, adalah ornag yang bertugas menulis naskah siaran untuk dibacakan oeh penyiar. Secara umum, deskripsi tugasnya adalah memuat naskah siaran yang dibutuhkan selama program acara radio berlangsung. Sebagai contoh, dalam proram acara musik, script writer yang bertugas mencari dan menulis informasi tentang profil artis atau musisi yang lagunya di putar, informasi album baru dari sang artis atau musisi. Untuk program teknologi misalnya, sang scriptwriter juga membuat informasi mengenai teknologi. Begitu pula untuk program kesehatan, scriptwriter harus menulis informasi seputar kesehatan. Pendeknya, scriptwriter bertugas menulis naskah yang dibutuhkan sesuai dengan program acara yang berlangsung.

Bukan hanya bertugas menulis beragam informasi, scriptwriter juga bertugas membuat naskah iklan, baik iklan yang dibacakan penyiar secara langsung (adlibs) atau membuat iklan yang di rekam (spot). Ada kalanya, seorang scriptwriter juga seorang produser acara dari program acar ayang dia buat. Dia tidak hanya menulis naskah – naskah siaran yang dibutuhkan selama siaran berlangsung, tetapi juga merancang suatu program acara radio.

Di dunia radio, peran scriptwriter itu penting. Bahkan ad ayang mengatakan kalau perannya sama dengan penyiar radio dalam hal menghidupkan sebuah acara. Bedanya, penyiar berkomunikasi langsung dengan pendengar, sedangkan scriptwriter memberikan hiburan dan informasi kepada pendengar melalui tulisan-tulisannya.

Sementara Reporter atau pola kerja reporter radio itu pada dasarnya sama saja dengan reporter media lainnya, dalam hal “cover news stories” (meliput berita). Pembeda utamanya, reporter radio –seperti halnya reporter televisi– harus memiliki suara bagus (good sound). Untuk reporter radio, “tampang” tidak penting, karena yang mereka “tunjukkan” ke pendengar hanya suara, bukan wajah. Beda dengan reporter televisi yang harus “good looking”, “good picture”, atau populer disebut “camera face” (wajah kamera?).

Reporter radio harus bisa menemukan suara yang mengilustrasikan cerita, seperti rekaman wawancara, suara suasana live dari konferensi pers, efek suara (sound effect), dan sebagainya. Suara-suara itu akan menjadi pelengkap cerita. Tugas Anda sebagai reporter radio antara lain membuat pendengar merasakan suasana seperti yang Anda rasakan.

Poin lainnya adalah menjadikan radio sebagai “media instan” yang mampu menyampaikan berita kapan saja, di mana saja, dan dari sumber mana pun! Anda tinggal memerlukan sambungan telepon untuk wawancara narasumber di mana pun di berbagai belahan dunia.

Itu artinya, laporan berita Anda per jam dapat di-update dengan banyak cara yang bagi reporter televisi dan media cetak lebih sulit melakukannya. Suratkabar harus menunggu hari berikutnya untuk update berita. Televisi harus menunggu gambar yang bagus untuk bisa ditayangkan. Reporter radio? Cukup dengan suara!


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Live Streaming Server 1

LPPL Radio Multatuli FM

Current track
TITLE
ARTIST